Saat ini adalah waktu yang sangat pas ketika akan memasuki musim haji. Indonesia sendiri memiliki film bertema haji yang dirilis bulan Oktober 2014. Sebelumnya di film “Emak InginNaik Haji” sukses menjadi salah satu film terbaik saat itu. Selain itu beberapa film luar negri yang sangat sayang bila terlewatkan.

1. Le Grand Voyage (2004)

Film ini mengisahkan perjalanan seorang ayah bersama anak laki-lakinya menuju Mekkah yang penuh makna kehidupan. reda diminta menemani ayahnya untuk mengantar ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Namun sang ayah telah berniat melakukan perjalanan ini tidak menggunakan pesawat, melainkan menggunakan mobil. Jarak yang mereka tempuh kira-kira 5000 km antara Perancis – Mekkah. Di tengah perjalanannya, Reda bertanya kepada ayahnya, “Kenapa Ayah tidak naik pesawat untuk naik haji? Lebih praktis. Si Ayah menjawab,”Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar.” Itulah sebabnya lebih baiknaik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.” Ketika Ayah kecil, almarhum kakekmu berangkat naik keledai. Ayah tak pernah melupakan hari itu. Kakekmu lelaki pemberani. Tiap hari Ayah naik ke atas bukit, disana Ayah bisa lihat cakrawala. Ayah ingin jadi orang pertama yang melihatnya kembali.”

Perjalanan Ayah dan anak sejauh 5000 km ini bukanlah tanpa halangan dan tantangan. Dari Perancis menuju Italia terus ke Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan akhirnya sampai ke Arab Saudi. Perjalanan ini, selain memerlukan stamina yang tangguh, juga dipenuhi berbagai macam cobaan seperti konflik internal antara ayah dan anak, kehilangan uang di tengah perjalanan, tertimbun salju dan lain sebagainya.

Namun perjalanan sesungguhnya bukanlah perjalanan sang ayah yang menunaikan ibadah haji. Perjalanan sesungguhnya adalah perjalanan sang anak yang menemukan hakikat hidup selama menempuh perjalanan ini. Reda, si anak bukanlah pemuda yang spiritual dan tugas mengantar ayahnya inisemula karena terpaksa disebabkan oleh karena ayahnya tidak bisa menyetir sedangkan kakanya dicabut SIMnya. Reda masih SMU dan punya pacar sehingga sepanjang perjalanan selalu teringat kekasihnya. Selain itu, Reda sangat egois dan suka kemewahan.

 

2. Abu, Son of Adam (2011)

Terjemahan bebas dari wikipedia : Adaminte Makan Abu (Abu, Son of Adam) adalah sebuah film drama 2011 di India.
Film ini bercerita tentang Attar miskin (semacam parfum) penjual Abu (Salim Kumar) yang hanya tersisa harapan dalam hidup adalah haji, yang ia berusaha keras untuk memenuhi.

3. Journey to Mecca

Film dengan format IMAX ini bercerita tentang perjalanan haji Ibn Battuta di tahun 1325-1326 M. Seorang petualang Muslim terbesar sepanjang masa, bahkan melebihi perjalanan Marco Polo (petualang asal Italia), perjalanan haji ini menjadi awal petualangannya menyusuri nyaris seluruh wilayah Timur Tengah, pantai utara Afrika, Persia (kini Iran), Cina, dan Andalusia (kini Spanyol). Sejak akhir April 2009 diputar di Teater IMAX Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Ibn Battuta (diperankan Chems Eddine Zinoun, yang wafat tanggal 12 November 2008) berangkat tahun 1325M dari kampung halamannya di Tangier, Maroko menyusuri pantai dan pegunungan utara Afrika menuju Mesir. Dalam perjalanannya ia menghadapi kerasnya tantangan alam dan, tentu saja, perampokan. Ia nyaris kehilangan nyawanya, jika saja seorang pemimpin suku nomaden tidak mencegah para perampok lebih jauh. Tidak lama Ibn Battuta ditampung di perkemahan pemimpin suku tsb dan menanyakan mengapa ia bersikeras pergi haji ke Mekkah.

Pemimpin suku ini (diperankan Hassam Ghancy) tahu bahwa Ibn Battuta memiliki kerabat kaya di Kairo dan menawarkan diri mengawal hingga kota piramid. Dengan bayaran tinggi tentunya. Ibn Battuta menolaknya dan melanjutkan perjalanan menuju Laut Merah agar bisa menyeberang ke Mekkah. Perang Byzantium membuat keadaan pantai tidak aman dan Ibn Battuta nyaris menyerah. Sang pemimpin suku mengikutinya dan kembali menawarkan bantuan. Akhirnya Ibn Battuta mengalah dan berdua mereka kembali ke pantai utara menuju Damaskus.

Di Damaskus keduanya berpisah. Sang pemimpin Badui menolak ketika diajak Ibn Battuta pergi haji ke Mekkah. “Allah belum memanggilku,” katanya. Ia mengembalikan uang upah Ibn Battuta dan minta dibelikan hewan qurban baginya untuk dipersembahkan kepada Allah SWT. Ibn Battuta bergabung dengan ribuan jamaah haji dari Damaskus menuju Mekkah.

Seusai haji Ibn Battuta ingat sebuah hadits Rasulallah,”Pergilah menuntut ilmu hingga ke negeri Cina.” Ia terinspirasi hadits tsb dan melanjutkan perjalanan bertualang ke nyaris seluruh negeri Jazirah Arab, Cina, India, Andalusia, dan sebagian Asia Tenggara. Ia tiba di Baghdad beberapa tahun setelah Persia dihancurleburkan oleh Genhis Khan. Catatan mengatakan ia sempat berkunjung ke pulau Sumatera. Total 40 negeri ia kunjungi, 5 kali pergi haji, dan 3 kali perjalanan lebih jauh dibanding Marco Polo. Ibn Battuta baru kembali ke kampung halamannya 29 tahun berikutnya. Kelak ia memiliki murid yang menjadi juru tulisnya, sementara Ibn Battuta menarasikan kisah perjalanannya.

Penonton diajak merasakan beratnya perjalanan haji dan suasana Masjidil Haram abad 13M. Layar semakin indah ketika Journey To Mecca mengajak penonton melihat prosesi haji abad 21. Kerumunan jamaah melakukan thawaf, sa’i, bermalam di Arafah, dan lontar jumarah di Mina. Pemandangan yang mengundang air mata, terharu menyaksikan kebesaran Allah SWT mengumpulkan ummat-Nya di Baitullah. Layar IMAX membuat semua pemandangan ini menjadi pemandangan paling mengagumkan sepanjang masa. Journey to Mecca mendapat penghargaan Most Popular Film di La Geode Film Festival, Paris, 2009

Info Terkait

One thought on “Film Yang Menceritakan Perjalanan Tentang Haji”

  1. Le grand voyage sungguh film yang sangat menyentuh hati. Perjuangan yg sangat luar biasa dari seorang ayah kepada anaknya….patut dicontoh….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Editor's Choice