Kulit Rambutan Bisa Jadi Obat Kanker Usus

Advertisement

Dilatar belakangi oleh banyaknya limbah kulit rambutan yang mengotori lingkungan saat musim rambutan tiba. Qonita Kurnia Anjani, Mahasiswi Universitas Hasanudin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan menyulap kulit rambutan menjadi sebuah inovasi untuk menyembuhkan kanker usus. Ia membuat ekstrak kulit rambutan dan dikemas dalam bentuk kapsul.

 

obat kanker usus

Qonita menyebutkan jika ekstrak kulit rambutan mampu mencegah kanker kolorektal.

kanker usus obat

Dengan penemuannya itu, ia mendapatkan dua sertifikat dari Romania dalam kompetisi 8th European Exhibition of Creatifity and Innovation (EUROINVENT) 2016.

serfitikat

Image via Tempo.co


Advertisement

Kegiatan yang diadakan 19 Mei – 21 Mei 2016 ini juga mengantarkan 3 partisipan lain dari Indonesia mencapai prestasinya masing-masing. Seperti dilansir di laman web KBRI Rumania, selain Qonita Kurnia Anjani, Indonesia diwakili pula oleh Dra. Mardiyah Yusuf Hasan Mansoor (Guru SMA Surya Buana Malang), Nirmaya Amalia Putri (siswi SMA 3 Malang) dan Adjienda Maullana (siswa SMA Surya Buana Malang). Masih dari laman KBRI Rumania, ke-4 peneliti yang menjadi perwakilan Indonesia berada di bawah naungan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA).

Khusus untuk Qonita, gold medal yang ditorehkannya merupakan hasil dari presentasi karya tulisnya yang berjudul “Nepelactobi: Solution for Prevention Colorectal Cancer”. Sebagaimana tercantum dalam prosiding event EuroInvent 2016, Nepelactobi adalah suplemen kesehatan yang diformulasi dalam bentuk mikrokapsul yang merupakan kombinasi dari Nephelium lappaceum dan Lactobacillus casei. N. lappaceum (rambutan) merupakan salah satu tanaman yang mengadung banyak flavonoid dan memiliki aktivitas antioksidan tinggi. L. casei adalah mikroba prebiotik yang telah lama diketahui memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan saluran gastrointestinal.

Lebih jauh, dengan melakukan kombinasi ke-2 substansi ini, Qonita kemudian berhipotesis bahwa Nepelactobi dapat memiliki potensi untuk mencegah terjadinya penyakit kanker kolorektal. Wanita berkerudung ini juga menyampaikan bahwa suplemen Nepelactobi dapat dikonsumsi dengan cara mencampurkannya ke makanan, misalnya es krim, mayonaise dan yoghurt.

Selain meraih medali emas dari panitia EuroInvent 2016, pada ajang yang sama, Qonita juga dianugerahi penghargaan lain atas kualitas karya tulis yang dipresentasikannya. Penghargaan atas topik Nepelactobi ini berasal dari Eurobusiness-Haller Polandia dan Highly Innovative Unique Foundation (HIUF) yang berpusat di Jeddah, Arab Saudi.

Semoga prestasi-prestasi membanggakan ini dapat diikuti oleh mahasiswa/i lain (chm). (article source : unhas.ac.id)

Advertisement

Info Terkait

Updated: Juni 7, 2016 — 1:54 am

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Ayomaju.info © 2016 Frontier Theme