Membangkitkan Semangat dari Trauma Kebangkrutan

Bagikan jika Anda suka

Banyak orang punya pengalaman pahit dalam bisnis. Gak sedikit yang mengalami trauma berbisnis. Apakah karena gak punya bakat? Apakah karena gak punya cukup pengetahuan?

Apapun alasannya, segala macam trauma harus segera disembuhkan. Dalam sebuah teori kewirausahaan (entrepreneurship) dan bisnis,  memang terdengar cukup mudah saat dipelajari di kelas, akan tetapi dalam prakteknya, berbisnis harus digeluti dengan berbagai macam tantangan yang sebenarnya, dan itu belum tentu ada dalam teori.

Untuk memulai mempraktikannya, perlu semangat tinggi, mulai berinvestasi, modal, dan waktu. Hampir kebanyakan pengusaha akan mengalami moment ‘bleeding period’ yakni waktu berdarah-darah karena membutuhkan kerja keras, berpikir cerdas, feeling, pembiayaan serta waktu yang tak sebentar sebelum menemukan kunci jalan menuju kesuksesan.

Seorang bankir ternama di Indonesia, Sigit Pramono memiliki pendapat bahwa : Setidaknya Ada Dua Persen Pengusaha Jika Indonesia Ingin Maju

Praktisi perbankan dan mantan Dirut bank BUMN tersebut juga menambahkan bagaimana karakter wirausahawan punya sejumlah ciri agar bisa sukses.

Diantaranya harus memiliki

  • Mimpi
    Mimpi merupakan sebuah tekad sebagai modal utama dalam berusaha, memiliki hasrat untuk memperbaiki ekonomi harus terus dipacu.
  • Ambisi
    Keinginan untuk sukses adalah sebuah suntikan penyemangat untuk meraih goal.
  • Tidak Biasa
    Menjadi orang yang tidak bisa artinya tidak memulu mencari zona aman, selalu berpikir out-of-the box.
  • Pengambil Resiko
    Terkadang ada seorang kolega atau kerabat yang sering menasehati untuk berhati-hati dalam berbisnis, nasehat tersebut adalah hal yang wajar dan memang membuat kita lebih berpikir lagi. Namun, disinilah karakter pengusaha sedang diuji.
  • Innovator
  • Kreatif
  • Gigih
  • Percaya Diri

Tekad merupakan modal utama dalam berusaha, memiliki hasrat untuk memperbaiki ekonomi harus terus dipacu. Keinginan untuk sukses tentunya harus memiliki ambisi,

 

Tekad terus berusaha, kalau berhasrat memperbaiki kondisi ekonomi, harus terus dipelihara. Seorang yang ingin sukses harus punya ambisi menjadi orang tidak biasa. Kreasi dan inovasi atas komoditas barang atau jasa yang dikuasai dan diyakini bisa ‘nembus’ pasar, juga harus terus dilakukan.

Selain itu, kegigihan juga kudu terus ditingkatkan. Kadang ada juga kolega atau kerabat yang hobi mengingatkan supaya berhati-hati dalam bisnis. Ini wajar, tapi inilah saatnya karakter wirausaha diuji. Seberapa besar tingkat percaya diri dan keberanian mengambil resiko.

Agar trauma gak berlanjut dan bisa mempercayai mitra bisnis, sejumlah tips perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Lebih seksama menyeleksi latar belakang profil usaha calon mitra bisnis
2. Teliti rekam jejak integritas dan rentang waktu berbisnisnya
3. Amati komunitas lingkungan bisnisnya
4. Siapa atau perusahaan mana yang pernah berbisnis dengannya?
5. Lembaga keuangan atau bank yang disepakati mendukung kerjasama nantinya.

Bagaimana cara mengantisipasi supaya pengalaman pahit bisnis gak terulang?
1. Yakinkan diri sudah paham kekuatan dan kelemahan pribadi waktu memasuki dunia bisnis, termasuk mau terus belajar.
2. Cermati semua peluang dan ancaman yang datang dari luar. Ambil peluang, karena kesempatan gak datang dua kali.
3. Perhitungkan resiko. Ancaman selalu ada di balik peluang.

Nah, dengan kapasitas kewirausahaan (entrepreneurship) tadi, setiap peluang sekarang telah menjadi lembar pembelajaran yang lebih menantang. Kalau sudah punya jam terbang lebih banyak, pastu bisa diketahui tipe mitra bisnis mana yang bisa didekati dan mana yang harus dijauhi.

Begitu juga momentum bisnis, dengan pengalaman sebelumnya, kepekaan meraih peluang mestinya akan semakin teruji. Gak kalah penting, konsultasilah dengan perbankan serta kamar dagang setempat untuk lebih membuka peluang sukses usaha. Selamat berbisnis!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.