Menerapkan Strategi Bisnis Hutan Rimba

Dalam sebuah binis diperlukan kegigihan yang pantang menyerah. Pelaku bisnis yang telah sukses tak semua berjalan mulus pada awalnya. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, itulah pepatah kuno menyebutkan.

Kebanyakan pelaku usaha (terutama yang sedang merintis) tergesa-tesa untuk mendapatkan untung yang besar dan segera mungkin untuk bisa mencapai BEP atau balik modal. Berbeda dengan pemain lama yang menerapkan untung sedikit tetapi tetap berlanjut dan mencangkup wilayah yang luas dimana cara ini sering disebut strategi “hutan rimba”.

Apakah anda pernah mendengar streategi hukum “hutan rimba”? Jika anda pernah nonton film “Billionaire” thailand movie yang menceritakan kisah sukses menjadi pengusaha besar.

Kita tidak akan membahas isi apa saja yang ada dihutan, melainkan bagaimana menerapkan strategi bisnis hutan rimba. Pada kisah film tersebut, seorang pengusaha muda Top Ittipat mencoba membuat produk makanan rumput laut yang di beri merek dagang “Tao Kae Noi” yang awalnya hanya dijual sendiri, mencoba peruntungan dengan mencoba menawarkan makanan ringan tersebut kepada toko swalayan yang telah mendunia yakni 7 Eleven.

Inspirasi dari kisah nyata tersebut bisa kita pakai untuk kelangsungan usaha kita. Apabila cerita diatas masih terlalu tinggi untuk dibayangkan, untuk memulai usaha kita perlu mengawali dengan orang terdekat dahulu. Misalkan pengalaman masih nol, asalkan punya modal yang paling penting adalah “1 M” yaitu : Mau

hutan rimba

Contoh usaha : Dompet Kulit

Misalnya saja membuka home industri yang membuat dompet dari kulit. Apabila proses pembuatannya sudah tidak ada lagi masalah, selanjutnya adalah cara menjualnya.

Dengan menjadi perintis usaha, maka kita menganggap semua orang adalah calon pembeli. Jika masih ragu untuk menawarkan produk tersebut ke orang lain, maka keluarga terdekatlah yang kita datangi terlebih dahulu. Bukan untuk meminta uang kepada mereka akan tetapi kita menganggap mereka sebatas calon pembeli. Entah ke orang tua, pak dhe, tante, oom, kemudian teman, dan orang-orang yang kenal dengan kita.

Cara tersebut sangat efektif untuk melatih kita berbicara untuk menawarkan produk yang akan kita jual, jika kita diketawain mungkin akan merasa biasa-biasa saja. Akan tetapi berbeda jika langsung ke calon konsumen yang sedang ada di pasar misalnya, kita menawarkan dompet tersebut dengan harga 100 ribu, reaksi orang-orang bervariasi. Ada yang bilang “mahal amat, 50 saya beli” – “buat apa dompet, saya udah punya”, “wah… modelnya kok kayak gini ya” dll… bisa saja sebagai perintis mental kita langsung down.

Jadi dengan menjual dahulu ke saudara, teman dan orang dekat lainnya sedikit demi sedikit akan melatih mental kita. Jika sudah mulai berani dan urat malu sudah hampir putus, segera untuk mencoba menawarkan ke orang lain. Jika mendapatkan respon yang bagus, segera untuk memperbesar usaha dan mulai untuk mencoba menawarkan ke toko atau distro dalam kota. Jika berkembang dengan baik, perluas wilayah sampai provinsi, bahkan menyebar ke seluruh Indonesia bukanlah hal yang mustahil.

“Strategi Hutan Rimba” Tentang bagaiman menciptakan hubungan antara patner bisnis kita di setiap daerah, Kita ciptakan kesempatan di mana-mana, Kita gerakkan patner kita di setiap wilayah. Dengan demikikan, konsumen kita akan terbentuk dimana-mana,kita tidak musti menghabiskan banyak biaya marketing untuk publikasi dan transportasi..tapi bagaimana caranya agar konsumen bergerak sendiri menemui kita.. (Abook of TOP bussines secret).

Bagikan jika Anda suka

Tinggalkan komentar