Pergeseran pola pikir, keuntungan bagi pedagang batu mulia

Bagikan jika Anda suka

Bagi seorang yang menyukai batu mulia jika mendapatkan batu yang cantik itu sangat menyenangkan. Namanya sudah cinta, setinggi apapun batu koleksi itu ditawar dengan keuntungan berkali lipat maka tidak akan dijual. Namun, giliran lagi butuh uang, bisa-bisa harganya sangat jauh dari yang diharapkan.

Begitulah suka duka para pemilik batu mulia. Ada ungkapan yang bisa mewakili hal itu, “mengoleksi batu mulia itu menyenangkan sekaligus menyakitkan.”

Muchamad Khudori, Ketua Persatuan Pedagang dan Pengrajin Batu Permata Indah (P3-Bapin) Taman Wisata Kayun Surabaya menjelaskan ungkapan itu benar-benar bisa terjadi. Banyak kawan-kawan dan pelanggannya, penghobi maupun kolektor batu mulia yang akhirnya kecewa lalu benar-benar meninggalkan hobinya.

“Penyuka batu mulia contonya batu akik itu kalau ketemu yang bagus pasti senang, tapi kalau sudah kepepet dan butuh duit, ketemu orang yang tidak terlalu mengerti batu, bisa-bisa ditawar harga rendah,” ujarnya kepada suarasurabaya.net, Kamis (19/2/2015).

batu mulia

Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan memadai mengenai batu mulia baik pada pemilik batu maupun masyarakat umum. Ini akan merugikan para pemilik batu mulia, sebab penentuan nilai dan harganya tidak berstandar seperti logam mulia.

Khudori menjelaskan penentuan nilai dan harga batu mulia seperti blue saphire, rubi, zamrud, atau mata kucing tidak seperti emas. “Penentuan harganya sudah diluar nalar. Beda beberapa miligram beratnya saja, harganya bisa selisih jauh sekali,” katanya.

Penilaian harga dan kualitas batu mulia terutama pada keindahannya yang sangat subjektif. Karena itulah, penting bagi pemilik batu mulia tahu jenis-jenis batu bagaimana yang berharga tinggi dan rendah. Dan yang paling penting mampu membedakan mana yang asli berasal dari alam mana yang buatan.

Mengoleksi batu mulia untuk pamer atau sekadar ikut-ikutan, seperti kata Khudori, berakhir menyakitkan.

Pergeseran Pola Pikir

Jenis batu yang dikenal masyarakat Indonesia dengan baik adalah batu akik. Dulu, batu ini dinilai dekat dengan hal-hal gaib dan mistis. Tapi, seiring berjalannya waktu, masyarakat akhirnya tahu bahwa batu-batuan yang sejatinya berasal dari alam ini memang bernilai tinggi.

Tidak hanya menjadi gaya hidup, masyarakat pun mulai mengerti bahwa batu mulia bisa menjadi pilihan investasi yang menjanjikan. Banyak penghobi batu mulia yang awalnya hanya ikut-ikutan atau sekadar pamer keglamoran mulai berpikir bahwa batu mulia bukan sekadar hobi musiman.

“Banyak yang membeli batu mulia untuk tujuan seperti itu. Ada pelanggan saya yang membeli batu mulia untuk berjaga-jaga kalau-kalau anaknya mau beli rumah. Ada juga yang tujuannya untuk keperluan sekolah anak-anaknya,” kata Khudori.

Harga jual batu mulia, kalau memang keindahannya diakui dan ada nilai kesulitan untuk mendapatkannya bisa melambung begitu tinggi. Khudori mengaku pernah menjual batu mulia seharga Rp1,3 miliar. “Bahkan ada yang sampai laku puluhan miliar kalau memang indah dan langka,” imbuhnya.

Karena ini pula, sedikit demi sedikit pola pikir masyarakat tentang batu tidak lagi melulu tentang batu bertuah atau dekat dengan mistis atau gaib. Karena, menurut Khudori, sudah ada riset membuktikan bahwa batu-batuan mulia ini selain indah juga memiliki manfaat positif bagi pemakainya.

“Ada batu tertentu yang bisa melancarkan peredaran darah pemakainya,” ujarnya. Tapi terutama popularitas batu akik dan batu mulia ini melonjak drastis ketika ada pemberitaan mengenai batu Bacan yang secara tidak langsung dikenalkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Pergeseran pola pikir ini membawa keuntungan bagi pedagang batu mulia. Untuk batu jenis tertentu, Khudori mengakui memang mengalami peningkatan penjualan. Batu seperti kecubung dan akik yang terdapat di Indonesia mengalami peningkatan penjualan antara 50-60 persen.

“Memang yang meningkat drastis batu dengan kelas menengah ke bawah. Kalau untuk kelas atas seperti rubi atau safir, yang ada malah sulit mendapatkannya. Kadang meski sudah pesan ke daerah asalnya, tapi barangnya yang tidak ada,” ujar Khudori.

Sekadar informasi, batu-batu mulia berjenis blue safir, zamrud, rubi, atau mata kucing memang berasal dari luar Indonesia. Negara-negara penghasil batu mulia ini antara lain Srilanka, Burma, Australia, Afrika, bangkok, colombia, Brazil atau India. ( sumber : den/edy : suarasurabaya.net )

Tinggalkan komentar