Reaksi Berlebihan Masyarakat Soal “Bule Rusia Menggelandang”

Sejak hari Selasa 26/7 warga ibu kota diramaikan dengan informasi mengenai dua orang warga negara Rusia yang dikatakan tak bisa pulang ke kampung halamannya alias menggelandang. Sosial media dengan cepat menyebarkan rumor ke publik, bahkan turut membawa nama Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.

A D V E R T I S E M E N T

Informasi awal

Sebuah berita dari merahputih.com – Dua turis Rusia, Dimitrii Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikova terpaksa menggelandang di Jakarta akibat kecurian saat melakukan penelitian di Papua. Keduanya—laki-laki dan perempuan— berhasil ke Jakarta dari Papua setelah mendapat bantuan.

Kedua bule yang menggelandang di Jakarta, tepatnya depan Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, ramai menjadi perbincangan di media sosial. Berita keduanya menyebar setelah akun Facebook bernama Iqbal Hendarawan membagikan beberapa foto keduanya tengah duduk sambil mengamen.

“Ini gw bingung mau bantu gimana, jadi ada bule Rusia kata mereka kehilangan pasport dokumen penting dll di Papua,” kata Iqbal dalam keterangan fotonya.

Iqbal juga menceritakan bahwa mereka minta bantuan dengan mengamen di depan Stasiun Sudirman. Sementarai dari Papua ke Jakarta, kedua bule itu mengatakan mendapat bantuan di sana. “Bawa ke kedutaan besarnya aja apa gimana nih? Atau ada yang bisa nolongin? Sekarang posisinya lagi di depan Stasiun Sudirman deket Dukuh Atas.”

Kedua warga asing ini dalam foto tampak menjadi perhatian para pelintas. Sang perempuan terlihat membawa ukulele untuk mengamen. Di depan keduanya terdapat tulisan, tampaknya tulisan ini buatan orang lain yang ingin membantu.

foto gembel bule
Bule Rusia di depan Stasiun Sudirman (Foto: Facebook/Iqbal Hendrawan)

 

“Hallo! Kami mengalami kehilangan tas akibat dicuri seseorang di Papua (passport, uang, kartu, handphone). Kami membutuhkan bantuan dalam bentuk uang untuk membeli tiket pulang,” demikian dicatata di atas kertas kardus di hadapan kedua warga asing itu.

A D V E R T I S E M E N T

Kemudian akun Iqbal tadi menginformasikan lagi bahwa saat ini keduanya telah ditolong sesorang dan kini tinggal di Kayu Manis, Jakarta Timur. “Lagi minta alamat lengkapnya di mana supaya bisa jenguk (lagi nunggu balesan). Kata mereka kedutaannya bilang paspornya baru jadi 3 bulan lagi dan visanya abis tgl 12 Agustus ini.”

Klarifikasi

Selanjutnya, website indonesia.rbth.com menjelaskan kronologi sebenarnya di lapangan. Lantas, seperti apakah kejadian sebenarnya? Benarkah informasi yang selama ini beredar?

Berikut klarifikasi Dmitry Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikova kepada RBTH Indonesia.

RBTH Indonesia bertemu Dima dan Sasha (panggilan akrab Dmitry dan Aleksandra) di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta. Keduanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mereka menghadapi situasi ini.

RBTH (R): Bisa Anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Anda berdua?

Aleksandra Kolesnikova (A.K.): Sebagaimana yang Anda tahu, kami kehilangan paspor. Kini kami harus pulang ke Rusia. Namun, ada beberapa masalah. Karena tiket ke Rusia sangat mahal, sulit bagi keluarga dan teman-teman kami untuk mengumpulkan uang, tapi tentu saja mereka membantu kami, mereka meminjam uang dari teman-temannya demi membantu kami. Sebetulnya, kami hanya ingin mengumpulkan sedikit uang untuk membantu keluarga dan teman-teman kami di Rusia yang juga sedang berusaha mengumpulkan uang.

R: Apa saja yang Anda lakukan untuk mengumpulkan uang?

A.K.: Kami pergi ke jalanan. Awalnya tidak ada masalah. Kami duduk di suatu tempat, kira-kira satu kilometer dari sini (Plaza Festival), orang-orang hanya berlalu-lalang, dan memberikan uang. Dalam dua jam, kami berhasil mendapatkan 400 ribu rupiah. Jadi, kami pikir ini ide yang bagus. Kami tidak merepotkan siapa pun. Jika kami melakukan ini setiap hari, kami bisa mengumpulkan jumlah yang kami butuhkan untuk membeli tiket dalam dua minggu. Namun kemudian, kami duduk di stasiun itu (Stasiun Sudirman -red.), dan secara kebetulan, beberapa orang datang menghampiri, mengambil foto kami, dan menanyai kami. Sayangnya, karena keterbatasan bahasa, mereka salah paham.

R: Apa yang mereka tanyakan dan bagian apa yang menimbulkan kesalahpahaman?

A.K.: Mereka bertanya soal kedutaan, apakah kami sudah pergi ke kedutaan, kami bilang, “Iya, kami sudah ke Kedubes Rusia, tapi mereka tidak bisa membantu masalah administratif, dan itu bukan tanggung jawab mereka.” Mereka juga bertanya, seperti, “Apakah kami sudah pergi ke imigrasi,” dan ini sangat sulit untuk kami jelaskan sehingga ada banyak orang yang salah paham.

R: Apa yang terjadi selanjutnya?

A.K.: Ketika kami pulang, seseorang ternyata sudah memublikasikan foto kami di Facebook dengan banyak informasi yang salah, bahwa kami tersesat, kami menjadi gelandangan, kami sakit, dan sebagainya. Setelah saya coba jelaskan, seperti, “Teman-teman, mohon tenang, ini cuma salah paham,” tapi publik sudah terlanjur gempar, dan semua orang sepertinya marah.

R: Apakah ini berarti Anda menolak dibantu?

A.K.: Tidak, tentu saja kami tidak menolak jika orang-orang mau membantu kami. Namun, kami pikir, jika mereka mau membuat penggalangan dana publik, ini terlalu berlebihan, ini sama sekali tidak sepadan. Ada lebih banyak orang miskin di Indonesia yang membutuhkan perhatian seperti ini, dan kenapa orang-orang tidak membahas isu itu di media sosial? Orang-orang secara kebetulan melihat kami, mungkin hanya lima menit, dan (kegemparan) ini terjadi. Kami tidak mengira situasinya akan menjadi sebesar ini. Orang-orang mengira bahwa mereka mengerti sesuatu, padahal tidak sama sekali.

Mohon dimengerti, saya tidak keberatan dengan bantuan, tapi saya ingin orang-orang paham bahwa ini bukan masalah yang terlalu serius. Kami sama sekali tidak berharap orang-orang menjadi seperti ini — mengumpulkan dana. Sebetulnya, dengan sumbangan 5.000 rupiah saja, kami sudah bisa pulang ke rumah. Sekarang, saya tidak bisa selalu membuka Facebook. Tiba-tiba ada ratusan orang yang ingin berteman dengan saya, dan ada banyak pesan masuk dari orang-orang. Mereka bertanya, “Apa kabar, bagaimana keadaanmu, dan di mana kamu tinggal?”

R: Artinya, kini Anda berdua merasa bahwa masalah justru bertambah?

A.K.: Ya, ini menimbulkan masalah bagi kami, tapi yang paling buruk, mereka menyerang kedutaan kami. Ada terlalu banyak informasi salah yang beredar internet. Seseorang bahkan bertanya ke kepada konsuler dan bertanya apakah mereka bisa membantu kami. Mereka (konsulat) bilang bisa, tapi (menurut orang yang bertanya itu) kami tidak mau pulang sekarang.

Mari saya jelaskan. Kami pergi ke kedutaan, ke konsulat. Mereka bilang, mereka bisa memberikan kami dokumen yang dibutuhkan (sebagai pengganti paspor). Dokumen itu berlaku selama sepuluh hari. Artinya, kami harus terbang tanggal 3 Agustus. Namun menurut mereka, jika kami hanya punya sedikit uang, sebaiknya kami membeli tiket pada hari lain karena harga tiket pada keesokan harinya adalah 800 dolar AS. Jika kami beli tiket tanggal 10 Agustus, harganya hanya 600 dolar AS, dan itulah yang paling murah.

Bagi Dima (Dmitry), dia harus mendapatkan tiket termurah dengan penerbangan tanpa keluar dari zona transit. Jadi, jika kami membuat dokumen pada hari itu, tanggal 25 Juli, dokumen itu akan kadaluarsa pada tanggal 10 Agustus. Karena itulah, konsuler mengatakan bahwa kami bisa datang kembali ke sana sekali lagi dan mereka akan buatkan dokumen ini.

R: Ada rumor bahwa Anda berdua menolak untuk menghubungi keluarga Anda dan hal itu menimbulkan kejanggalan bagi beberapa pihak. Apa tanggapan Anda?

A.K.: Ketika konsuler bertanya apakah kami mau menelepon keluarga kami, kami bilang, “Tidak,” karena kami sudah mengabari mereka. Namun, ketika konsuler mengatakan pada orang yang menyebarkan informasi bahwa kedutaan tidak bisa membantu kami, sebenarnya — yang dimaksud konsuler adalah terkait dokumen, bukan soal uang. Jika Anda berharap mereka membantu soal barang-barang kami yang hilang — ini jelas bukan tanggung jawab mereka. Memang, ada beberapa pengecualian, misalnya ada situasi yang membahayakan hidup si warga negara terkait — ada bantuan dana, seperti jika ada bencana tsunami, atau situasi darurat di negara itu. Namun, apa yang kami alami adalah sesuatu yang wajar terjadi.

Hitchhiking atau menumpang kendaraan adalah cara yang paling murah untuk bepergian bagi para wisatawan dengan anggaran terbatas.

Ada banyak orang (turis) yang kehilangan uang di Bali, misalnya. Hanya saja, mereka biasanya sudah punya tiket balik. Lalu, kenapa kami tidak punya tiket balik? Ini karena kami tidak berencana pulang dengan terbang langsung ke Rusia. Kami berencana pergi ke Kuala Lumpur dulu, dengan penerbangan murah, dan setelah itu kembali ke Rusia dengan jalur darat, sama seperti ketika kami tiba di Indonesia, dengan hitchhiking. Sebetulnya masalah ini sangat sederhana, tapi kini menjadi rumit.
R: Bagaimana Anda bisa kehilangan paspor Anda?

A.K.: Kejadian itu terjadi saat kami dalam perjalanan ke Nabire dari Jayapura. Kami ke sana dengan kapal. Di hari terakhir sebelum kami tiba di Nabire, kami tidur di dek kapal karena ada banyak sekali orang di dalam kapal dan udaranya sangat panas. Kami membawa semua barang beharga kami saat tidur. Kami tidur dengan memeluk tas ini, tapi Dima tidak terbangun ketika sesorang mengambil tas ini, dan tentu saja, sangat mustahil untuk menemukan siapa yang mengambilnya karena ada banyak sekali orang di kapal itu. Kami bicara pada kru kapal, tapi mereka tidak terlalu bisa bicara dalam bahasa Inggris, dan tidak bisa menanyai semua penumpang satu per satu. Bisa jadi, pencuri itu hanya mengecek tas dan mengambil apa yang ia ingin ambil dan membuang tas itu ke laut.

Setelah itu kami di Nabire, setelah setengah jam lapor ke polisi di sana, kami mendapatkan dokumen yang kami butuhkan (surat kehilangan -red.). Saat itu, yang saya punya hanya handphone, peta, dan GPS. Ketika saya melihat ke persimpangan untuk memahami di mana kami berada, tiba-tiba ada orang dengan motor yang menyambar handphone saya begitu saja, dan handphone saya pun lenyap.

R: Bagaimana Anda berdua akhirnya bisa tiba di Jakarta?

A.K.: Kami ke Jakarta dengan bantuan orang-orang baik di Indonesia. Kami ke pelabuhan dan kami menjelaskan keadaan kami. Di sana, orang-orang memanggil sang kapten, dan dia mengerti situasi kami. Ia memberikan kami tiket gratis ke Surabaya. Dia bahkan memberikan kami uang untuk bisa ke Jakarta.

Setelah tiba di Surabaya, ternyata tidak ada lagi tiket kereta yang tersedia selama seminggu. Padahal, kami sama sekali tidak bisa menunggu. Kami pun mencoba menjelaskan masalah kami kepada pihak kereta api, “Tolong kami, kami bisa duduk di lantai. Kami perlu pergi secepat mungkin.” Lalu, orang ini pun berusaha menolong kami. Dia mencoba bertanya ke orang-orang di sekitar stasiun selama satu jam, dan akhinrya, dia bilang, “Oke, kalian mendapatkan dua tiket untuk perjalanan esok hari.”

R: Setelah di Jakarta, Anda tinggal di mana?

A.K.: Kami punya teman di Jakarta. Mereka adalah teman dari temen-teman Rusia kami. Mereka sangat baik, mereka punya komunitas, mereka membuat workshop, dan membuat pakaian. Mereka juga membuat semacam proyek sosial. Dengan orang-orang inilah kini kami tinggal.

R: Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Anda ke Papua untuk melakukan riset?

A.K.: Kami ingin membuat semacam riset, tapi itu bukan seperti kami dikirim secara resmi dari universitas untuk melakukan riset. Ini hanya karena saya berkonsultasi dengan dosen saya di kampus. Saya bertanya apakah ini ide yang bagus ketika saya ke Indonesia tahun ini, dan saya ingin mengeksplorasi sesuatu yang berkaitan dengan spesialisasi saya, yaitu di bidang geografi dan turisme, dan menulis semacam artikel singkat, atau semacam catatan yang kami buat berdasarkan apa yang kami amati di Papua. Ini sama sekali bukan artikel atau penelitian ilmiah. Masalahnya, orang-orang sering kali tidak paham dengan apa yang kami lakukan. Ini dikarenakan kami tidak mengunjungi tempat-tempat yang lazim dikunjungi turis, khususnya di Papua. Di Papua, polisi cukup mencurigai kami, seperti kenapa kami ke sini, kenapa kami ke desa ini — karena tidak ada apa-apa di desa itu.

R: Bagaimana rute perjalanan Anda saat pertama kali tiba di Indonesia?

A.K.: Kami pertama kali tiba di Medan dan mengelilingi Sumatera. Kamudian, kami menyeberang ke Pulau Jawa. Kami ke Jakarta, Yogyakarta, Surabaya — mendaki Gunung Bromo. Kami kemudian ke Banjarmasin karena tujuan kami adalah Papua. Dari Balikpapan, kami ke Makassar, lalu ke Papua. Kami hanya selalu meminta penduduk setempat untuk menjelaskan pada kapten kapal untuk membawa kami ke tujuan kami. Kami telah berada di Indonesia selama hampir dua bulan. Kami tiba pertama kali pada 14 April.

Papua adalah destinasi terakhir kami. Setelah ini, kalau pun kejadian ini tak terjadi, kami akan pulang dengan rute yang sama seperti kami ke sini.

R: Apakah Anda pikir Anda akan berhasil mengumpulkan uang yang dibutuhkan dalam waktu singkat ini?

A.K.: Tentu saja, kami pasti akan berhasil. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Harga tiketnya memang mahal, tapi bukan berarti tak bisa kami beli. Selain itu, keluarga kami juga membantu.

Kami ingin mencari bantuan karena keluarga dan teman-teman kami pun mencari pinjaman dari teman-temannya. Namun, jika tidak ada yang membantu kami di sini pun, kami pasti akan tetep pulang. Mereka tidak akan membiarkan kami di sini, dan pasti akan menemukan cara untuk membuat kami bisa pulang ke Rusia. Tidak perlu panik, semua baik-baik saja. Kami tidak kelaparan.

Saat ini, kami sudah mengumpulkan satu juta rupiah. Ini belum ditambah dengan bantuan dana yang akan dikirimkan orangtua kami.

R: Apakah dengan kejadian seperti ini membuat Anda kapok ke Indonesia?

A.K.: Tidak, kami pasti akan kembali ke Indonesia. Kami harus pergi ke Nabire, dan ingin mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantu kami di sana.

Kami sama sekali tidak menyesal ke Indonesia. Di sini, kami menemukan banyak persamaan antara Rusia dan Indonesia. Ini sangat menarik sekali. Seperti, apa yang ada di Indonesia saat ini, pernah ada di Rusia 20 tahun lalu. Namun, ada juga yang sama seperti saat ini. Selain itu, kita ternyata cukup mirip, dalam banyak hal: mentalitas, bahkan selera humor. Saat kami tiba di Indonesia, Indonesia punya “wajahnya” sendiri, benar-benar berbeda dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Sangat menarik.

R: Apa yang membuat Anda tertarik menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi perjalanan Anda?

A.K.: Ada banyak alasan. Salah satunya, kami suka negara dengan iklim panas. Selain itu, Indonesia adalah negara yang besar, ada banyak gunung berapi, dan alam yang indah. Ini pertama kalinya kami ke Indonesia.

Di Rusia, ada beberapa petualang yang mengenalkan Indonesia lewat tulisan-tulisan yang diterbitkan di buku, bukan cuma Bali, tapi Indonesia. Ada orang Rusia yang bertualang seperti kami, dan dia menceritakan banyak hal mengenai Indonesia, hal-hal yang tak akan Anda temui dengan melakukan wisata biasa. Ada juga blogger yang banyak hal mengenai Indonesia. Dia pergi ke Indonesia tiap tahun dan memenuhi blognya dengan keindahan alam Indonesia.

R: Setelah ini, apakah Anda akan kembali mengumpulkan uang dengan mengamen?

A.K.: Tidak, kami tidak akan mengamen lagi di jalanan, kami tidak mau. Terlalu banyak orang yang salah paham dan menyebarkan rumor, dan mengatakan bahwa kami sebenarnya sudah punya paspor dan tiket gratis dari kedutaan.

Hal yang paling buruk adalah terkait kedutaan. Kedutaan tentu tidak bisa membantu semua orang, dan itu wajar. Ini sesuatu yang logis. Saya pikir, di mana-mana hampir sama. Jika Anda kehilangan paspor di Rusia, misalnya, saya pikir Kedutaan Besar RI tidak akan menggalangkan dana demi membantu Anda pulang.

Kemarin, saya kembali menulis kejadiaan ini (di Facebook -red.), dan mencoba untuk menjelaskan hal ini kembali, soal birokrasi, dan sebagainya. Mohon dipahami bahwa kedutaan kami bukannya tidak bisa membuatkan kami paspor. Mereka bisa, tapi itu butuh waktu tiga bulan.

Reaksi Berlebihan Masyarakat Soal “Bule Rusia Menggelandang”

A D V E R T I S E M E N T

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.